I'rob Quran Surat Al Baqarah Ayat 3

SURAT AL BAQARAH AYAT 3

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ


  1. A.    PENJELASAN NAHWU SHOROF (I’ROB)
Lafadz
Penjelasan
الذين
Isim maushul mabni fathah, berada pada mahal jer menjadi naat dari lafadz المتقين
يؤمنون
Fiil mudhore’ marfu’, tanda rofa’nya adalah Nun karena termasuk af’alul khamsah. Wawunya adalah wawu dhomir jamak, hukumnya mabni pada mahal rofa berkedudukan menjadi fa’il

PENJELASAN I’ROB SURAT AL BAQARAH AYAT 1 DAN 2



SURAT AL BAQARAH AYAT 1 DAN 2
الم ذلِكَ الْكِتابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ
  1. A.    PENJELASAN NAHWU SHOROF
Lafadz
Penjelasan
الم
Huruf muqatthi’ah, tidak punya mahal i’rob.
ذا
Isim Isyarah hukumnya mabni sukun, mahal rofa’ kedudukannya menjadi mubtada
اللام
Harf Jar
الكاف
Kaf khitab, isim dhomir mahal jer di jerkan huruf jer lam.
الكتاب
Badal atau ‘athaf bayan dari lafadz ذا , dirofa’kan dengan tanda i’rob rofa’ adalah dhomah karena isim mufrod.

I'ROB SURAT AL MUDATSIR AYAT 1-7

PENJELASAN I'ROB SURAT AL MUDATSIR AYAT 1-7

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4)
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)


 Keterangan I'rob


أيّها
: Munada Nakiroh Maqsudah, hukumnya mabni Dhom, berada pada mahal nashob

المدّثّر
Badal dari lafadz  أيّ, atau athof bayan, mengikuti dalam I’rob rofa’, dengan tanda I’robnya dhommah

Pembagian Kalimah (Bagan)



Terima Kasih telah mengunjungi Nahwu Shorof Online Jika ada saran, kritik, pertanyaan, atau sanggahan, Silahkan tinggalkan komentar atau kontak kami

100 Amil (Awamil)

AWAMIL(100 amil)

Amil adalah lafadz yang mempunyai pengamalan terhadap kalimah lain, sehingga menyebabkan suatu kalimah memiliki i’rob rofa, nashob, jer, atau jazm yang semuanya berjumlah 100 amil. Simak pembahasannya di bawah ini.
Awamil secara umum, dibedakan menjadi dua macam, yaitu ;

1.   Amil Maknawi (2 amil)
Amil maknawi hanya ada dua macam yaitu ;
1)    Amil maknawi ibtida, dan
2)    Amil maknawi tajarrud.
2.   Amil Lafdzi (98 amil)
Amil lafdzi dikelompokkan lagi menjadi 2 ;
1)    Sima’iyah
Amil lafdzi sima’iyah dibedakan menjadi 13 kelompok :
(1)  Huruf yang men-jer-kan kalimah isim (19 amil), yaitu :
الباء، من، الى، فى، عن، واو القسم، باء القسم، تاء القسم، اللام، ربّ، واو رب، علي، الكاف، مذ، منذ، حتى، حاشا، عدا، خلا.
(2)  Huruf yang menashobkan isimnya dan merofa’kan khobarnya (6 amil), yaitu :
إنّ، انّ، كأنّ، لكنّ، ليت، لعل
(3)  Huruf yang menashobkan isim dan merofa’kan khobar (2 amil), yaitu :
ما، لاَ
(4)  Huruf yang menashobkan kalimah isim (7 amil), yaitu :
واو معية، إلاّ، يا، أيا، هيا، أى، أ
(5)  Huruf yang menashobkan fiil mudhore’ (4 amil), yaitu :
أن، لن، كي، اذن
(6)  Huruf yang men-jazm-kan fiil mudhore’ (5 huruf), yaitu :
إنْ، لم، لما، لام الامر، لا نهي
(7)  Isim yang men-jazm-kan 2 fiil mudhore’ dengan menyimpan makna إنْ  (9 amil), yaitu :
مَنْ، ما، أي، متى، مهما، اين، انى، حيثما، إذما
(8)  Isim yang menashobkan isim nakiroh dan menjadikannya tamyiz (4 amil), yaitu :
-      Lafadz عشرة  jika tersusun bersama lafadz  أحد، اثنين  sampai  تسعة وتسعين (bilangan dari 10 - 99)
-      كم
-      كاين
-      كذا
(9)  Asmaul Af’al (9 amil), yaitu :
-      Menashobkan kalimah isim : رويد، بله، دونك، عليك، هاء، حيهل،
-      Merofa’kan kalimah isim : هيهات، شتان، سرعان
(10)      Af’alu Naqishoh, beramal merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya (13 amil), yaitu :
كان، صار، أصبح، امسى، أضحى، ظل، بات، مازال، مابرح، مافتئ، ماانفك، مادام، ليس
(11)      Af’aulul muqorobah, beramal seperti lafadz  كان(4 amil), yaitu ;
عسى، كاد، اوشك، كرب
(12)       Af’alul madh wa dzam yaitu fiil yang digunakan untuk memuji dan menghina, beramal menashobkan merofa’kan isim jinis yang dima’rifatkan dengan ال (4 amil), yaitu :
نِعْمَ، بِئْسَ، ساء، حبذا
(13)      Af’alu syak wa yaqin, fiil ragu ragu dan yaqin yang beramal menashobkan 2 maf’ul (7 amil), yaitu :
حسبتُ، خِلْتُ، ظَننتُ، رأيتُ، علمتُ، وجدتُ، زعمتُ

2)    Qiyasiyah
Amil qiyasiyah ada 7 amil yaitu :
(1)  Kalimah fiil
(2)  Isim fa’il
(3)  Isim Maf’ul
(4)  Sifat Musyabihat
(5)  Mashdar
(6)  Setiap isim yang disandarkan/ dimudhofkan pada kalimah isim lainnya
(7)  Setiap isim yang sempurna dan tidak membutuhkan idhofah, seperti isim mubham.



Terima Kasih telah mengunjungi Nahwu Shorof Online Jika ada saran, kritik, pertanyaan, atau sanggahan, Silahkan tinggalkan komentar atau kontak kami

Penjelasan Jamak Mudzakar Salim

Penjelasan Jamak Mudzakar Salim

Jama’ mudzakar salim adalah bentuk jamak untuk laki-laki, salim artinya selamat bentuk mufrodnya yaitu tetap tidak berubah. Dalam ilmu nahwu jama’ mudzakar salim adalah :

هُوَ مَا جُمِعَ بِزِيَادَةِ الْوَاوِ وَالنُّوْنِ فِى حَالَةِ الرَّفْعِ وَبِزِيَادَةِ الْيَاءِ وَالنُوْنِ فِى حَالَتَيِ النَصْبِ وَالْجَرِّ

Isim yang menunjukkan makna jamak yang ditambah wawu dan nun dalam irob rofa dan ditambah ya dan nun dalam nashob dan jer.
Contoh :
Rofa –  جَاءَ الزَّيدُونَ الكَارِمُوْنَ
Nashob – رَاَيْتُ الزَيدَيْنِ الكَارِمِيْنَ
Jer – مَرَرْتُ بِالزَيدَيْنِ الكَارِمِيْنَ

Syarat isim yang diJamak Mudzakar Salim - kan
Isim yang boleh dibuat jamak mudzakar salim ada dua macam, yaitu ;
1.    Alam (Nama)
2.    Sifat (kata sifat)
Dari kedua isim tersebut mempunyai ketentuan masing – masing, yaitu ;

Syarat Alam, syarat alam yang dapat dijamak mudzakar salimkan adalah :
1.    Alam mudzakar, artinya isim harus nama laki – laki, nama perempuan tidak bisa dibuat jamak mudzakar salim melainkan dibuat jamak muannats salim. Misal nama زينب tidak bisa dijama’kan زينبون.
2.    Alam aqil, yaitu nama untuk mahluk yang berakal, bukan nama hewan atau benda mati.
3.    Tidak ada ta’nis dalam lafadznya, walaupun alam mudzakar dan aqil, tetapi terdapat tanis dalam lafadznya maka tidak bisa dijadikan jamak mudzakar salim. Seperti  حمزة, معاوية.
4.    Alam tidak berupa tarkib/murokkab, baik terkib isnadi (seperti nama ; رزقَ اللهُ), tarkib idhofi (seperti nama عبد العزيز), maupun tarkib mazji (seperti nama سيبويْهِ).
Jika nama yang berupa terkib isnadi atau mazji akan dijama’kan maka seperti halnya isim tasniyah, yaitu dengan menambahkan lafadz ذَوُو (rofa’) dan  ذَوِى (nashob/dan jer). Contoh : جَاءَ ذَوُو رَزَقَ اللهُ
Adapun jika berupa terkib idhofi, maka dengan hanya menjamakkan lafadz mudhofnya saja, seperti ; جَاءَ عَبْدُوالرحمن، رَاَيْتُ عَبْدِي الرحمن.
5.    Alam tidak berupa lafadz isim tasniyah atau jamak mudzakar salim, seperti nama المحمدان atau المحمدون tidak bisa dijamak mudzakar salimkan.

Syarat Sifat. Sifat merupakan bentuk kata sifat yang biasanya berupa isim fail dan isim maf’ul, syarat Sifat yang dapat dijamak mudzakar salimkan adalah :
1.    Sifat mudzakar, artinya sifat yang untuk menyipati laki-laki, seperti ;  عَاقِلmenjadi عاقلون, sifat yang untuk menyifati muannats/perempun tidak bisa dijamak mudazakar salimkan seperti ; حَائض
2.    Sifat ‘aqil, yaitu sifat bagi yang berakal bukan sifat untuk hewan atau benda mati.
3.    Sifat yang tidak terdapat tanis di akhirnya, jika sifat ada ta’nisnya maka tidak bisa dijamak mudzakar salimkan.
4.    Sifat yang tidak mengikuti wazan أفْعَلَ yang muannatsnya فَعْلاء. Seperti lafadz أخضر tidak bisa dijamakkan menjadi أخضرون.
5.    Sifat yang tidak mengikuti wazan فَعْلان yang muannatsnya فَعْلى. Seperti lafadz سكران  tidak bisa dijamakkan menjadi سكرانون.
6.    Bukan berupa sifat yang untuk menyifati laki-laki dan perempuan dengan lafadz yang sama, seperti ; صَبور شكور , kedua lafadz tersebut tidak bisa dibuat jamak mudzakar salimkan, sebab untuk muanas dan mudzakar sama.





Terima Kasih telah mengunjungi Nahwu Shorof Online Jika ada saran, kritik, pertanyaan, atau sanggahan, Silahkan tinggalkan komentar atau kontak kami

Menambahkan Alif setelah Wawu Jamak

Menambahkan Alif setelah Wawu Jamak

'Ulama ahli Nahwu sepakat bahwa setelah wawu jamak pada fiil madhi, fiil mudhore mansub dan majzum, juga fiil amar untuk menambahkan alif yang berguna untuk memisahkan/membedakan antara wawu athof dengan wawu jamak (lil farqi baina wawil athfi wa wawil jam'i).
Perhatikan pada contoh kalimah dibawah ini :
1. Fiil madi :ضربوا 
2. Fiil Mudhore' :لا تضربوا
3. Fiil Amar :اضربوا
 fungsi dari alif tersebut adalah sebagai pemisah antara wawu athof dan wawu jamak, contoh : 
نصروا ريدا (mereka menolong zaed)
tetapi jika alifnya dihilangkan نصرو ريدا maka maknanya akan berbeda. sebab wawu tersebut bisa saja dijadikan wawu athof, wawu isti'naf atau wawu ma'iyah. 
Tetapi, terdapat pengecualian al Quran terutama dalam mushaf 'Utsmani terdapat 6 fiil yang setelah wawu jamak tidak ditambahkan alif yaitu :

1. Lafadz جاءو pada ayat : 
/ وجاءو على قميصه / / جاءو بالأفك 
2. Lafadz باءو pada surat al Baqoroh:
  وباءو بغضب
3. Lafadz فاءو pada surat al Baqoroh :
  فإن فاءو
4. Lafadz سعو pada Surat Saba:
سعو في آيتنا
5. Lafadz عتو pada Surat al Furqan:
عتو عتوا
6. Lafadz تبوءو pada Surat al Hasyr:
  والذين تبوءو الدار






Terima Kasih telah mengunjungi Nahwu Shorof Online Jika ada saran, kritik, pertanyaan, atau sanggahan, Silahkan tinggalkan komentar atau kontak kami

Pengertian Asma as Sittah (6 isim) beserta penjelasan i robnya


Pengertian Asma as Sittah (6 isim) beserta penjelasan i robnya



Pengertian

Dalam bahasa arab, ada 6 isim yang memiliki karakteristik khusus, yang dii’robi dengan huruf, sehingga mempunyai hukum yang khusus pula, 6 isim tersebut dinamakan asma as sittah yang lapadz-lafadznya ialah :


1.     اَبُوْكَ

2.     اَخُوْكَ

3.     حَمُوْكِ

4.     فُوْكَ

5.     ذُوْ

6.     هَنُوْكَ

Asmus didefinisikan sebagai berikut ;

مَا دَلَّ عَلى مُفْرَدٍ جَرَى مَجْرَى جَمْعِ الْمُذَكَرِ السَّالِمِ رَفْعًا وَجَرًّا

Artinya :

Isim yang menunjukkan makna mufrad yang berjalan seperti jamak mudzakar salim dalam keadaan rofa’ dan jer.



Syarat Asmaus sitah

Asmaus sitah memiliki syarat-syarat yang harus dimiliki agar lafadz – lafadz asmaus sittah bisa di i’robi dengan huruf, syaratnya ialah :

1.    Harus Mufrad (tunggal), maksudnya lafadz yang akan dibuat asmaus sittah dari lafadz-lafadz diatas tidak boleh berbentuk tatsniyah atau jamak.

2.    Mukabbar (peruntukan bagi yang besar), artinya tidak mushoghor, mushoggor ialah bentuk kecil biasanya diikutkan wazan فُعَيْلٌ atau فُعَيْعِلٌ.

3.    Harus mudhof, artinya asmaus sitah harus menjadi mudhof ilaih.

4.    Tidak mudhof pada ya mutakallim, karena jika mudhof pada ya mutakallim harkat akhir kalimah harus disesuaikan dengan ya mutakallim.

5.    Lafadz فُوْكَ  yang asalnya adalah فَمٌ, ketika dibuat asmaus sittah maka mimnya harus dibuang.

6.    Lafadz ذُوْ harus menggunakan makna صَاحِب  (memiliki), dan selamanya lafadz ini mudhof.

Jika salah satu syarat diatas tidak terpenuhi maka asmaus sittah tidak bisa dii’robi dengan huruf, melainkan dii’robi dengan harkat.



Hukum I’rob Asmaus sitah

I’rob dalam asmaus sitah ada tiga macam, yaitu :

1.    Itmam, artinya sempurna yaitu i’rob asmaus sitah dengan menggunakan huruf. Ketika rofa ditandai wawu, nashob ditandai alif, dan jer ditandai ya.

Contoh :  ، رَأَيْتُ اَخَاكَ، مَرَرْتُ بِأَخِيْكَ جَاءَ اَخُوْكَ 

2.    Naqs, yaitu i’rob asmaus sittah dengan menggunakan harkat. Rofa ditandai dhommah, nashob ditandai fathah, jer ditandai kasroh.

Contoh : ، رَأَيْتُ اَخَكَ، مَرَرْتُ بِأَخِكَ جَاءَ اَخُكَ 

3.    Qashr, yaitu asmaus sittah dii’robi dengah harkat yang dikira kirakan terhadap alif, Rofa ditandai dhommah, nashob ditandai fathah, jer ditandai kasroh.

Contoh : ، رَأَيْتُ اَخَاكَ، مَرَرْتُ بِأَخَاكَ جَاءَ اَخَاكَ 



Dalam penggunaannya tidak semua irob diatas berlaku sama, tetapi masing masing memiliki keutamaan untuk digunakan, yaitu :

1.    Lafadz اب، اخ، حم  lebih utama dii’robi dengan huruf, yaitu, selanjutnya dengan i’rob qoshr yakni dengan harkat yang dikira-kirakan atas alif, dan yang terakhir dengan i’rob naqs yaitu dii’robi dengan harkat yang jelas (hukumnya jarang).

2.    Pada lafadz هن hanya berlaku dua i’rob yaitu naqs dan itmam, dan lebih utama dengan i’rob naqs.


Wallohu a’lam bishawab


Terima Kasih telah mengunjungi Nahwu Shorof Online Jika ada saran, kritik, pertanyaan, atau sanggahan, Silahkan tinggalkan komentar atau kontak kami

Berbagi Artikel

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites